Kepemimpinan Perusahaan Yang Adaptif

Perubahan zaman adalah keniscayaan sebagai bagian dari siklus kehidupan. Di dalamnya terkandung berbagai tuntutan-tuntutan yang sesungguhnya merupakan sarana menggapai peningkatan di bidang apapun. Namun kenyataan tak selalu yang indah-indah saja. Ada sebagian orang maupun perusahaan yang justru malah terpuruk oleh perubahan zaman. Apa penyebabnya ? Pernyataan berikut selayaknya menjadi sebuah permenungan.

“Kita bisa saja nampak tua bukan semata-mata karena kita benar-benar sudah tua. Kita bisa menjadi nampak tua karena ada banyak orang di sekitar kita yang nampak lebih muda”. Orang yang nampak muda itu bisa saja benar-benar berusia muda, tetapi tidak jarang orang-orang sebaya kita atau lebih tua dari kita juga tampak lebih muda. Mengapa mereka tampak lebih muda? Jawabanya adalah karena mereka merespon perubahan dan memperbaharui diri.

 

kepemimpinan adaptif

Mereka mengganti kacamatanya sehingga lebih modis, potongan rambut disesuaikan dengan selera zamannya, begitu pula cara mereka berpakaian dan mengungkapkan pikiran-pikiran mereka.
Perusahaan pun demikian kondisinya. Bila keukeuh menjalankan system kerja dan menawarkan produk maupun jasa yang tetap sama dari waktu ke waktu, tentu kan menjadi perusahaan tua dan segera ditinggalkan oleh pasar Perusahaan seperti itu dianggap tak lagi mampu memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen yang pasti mengikut trend zaman. Walhasil bangkrutlah perusahaan itu.

Nah karena pemimpin adalah pusat pergerakan seluruh aktivitas perusahaan , maka dialah yang paling pertama harus peka, menangkap tanda-tanda perubahan zaman khususnya perubahan selera pasar. Kemudian dengan berbekal tanda-tanda tersebut, pemimpin bisa cepat merubah, memperbaharui unsur-unsur dalam perusahaannya supaya dapat mencapai kemajuan atau minimal eksis di tengah persaingan usaha yang semakin ketat.

8 Strategi Kepemimpinan Adaptif

Salah satu cara yang bisa ditempuh untuk memperbaharui perusaahan agar adaptif terhadap perkembangan zaman adalah dengan menerapkan model kepemimpinan N-Step , temuan pakar John P. Kotter pada tahun 1995. Rincian langkah-langkah memimpin model ini meliputi:

1. Ciptakan suasana yang mendesak(Sense of Urgency)

Perubahan dimulai dengan penyadaran pada semua pihak bahwa perusahaan anda berada pada situasi yang gawat. Kalau tidak segera diatasi, dapat masuk ke ruang gawat darurat. Pemimpin memulai upaya perubahan dengan menunjukkan atau mendiskusikan indicator-indikator krisis, hal –hal yang berpotensi menyebabkan krisis dan peluang-peluang yang ada di balik krisis itu.

Kalau tidak terdesak ,orang-orang akan memeluk erat selimut rasa nyamannya dan berlindung di dalam zona kenyamanan itu. Mereka umumnya tidak perduli dan tidak percaya terhadap apa yang tidak mereka lihat. Maka tugas pertama seorang pemimpin adalah melihat apa yang ia lihat. Ingatlah , pada setiap masalah yang sama dua orang yang berdekatan bisa melihat dengan kesimpulan yang berbeda.

2. Membentuk koalisi perubahan yang kokoh

Perubahan biasanya dimulai dari satu dua orang, tetapi tidak akan effektif bila tidak mendapat dukungan dari suatu kekuatan massa yang besar. Massa yang besar itu umumnya adalah para late comers atau laggard yang baru bergerak kalau sudah ada beberapa yang bergerak. Oleh karena itu pemimpin perlu membentuk suatu koalisi yang terdiri atas semisal 5, 10 atau 15 orang untuk ikut menggerakkan perubahan. Mereka ini kita sebut sebagai agen-agen perubahan yang bertugas memotret, menjelaskan , memantau dan mendorong orang-orang di sekitarnya untuk ikut mendukung perubahaan.

3. Membangun visi

Koalisi perubahan bekerja menterjemahkan visi ke depan. Tanpa visi, para pengikut atau karyawan akan kehilangan arah. Visi yang jauh ke depan harus dapat dipilah-pilah menjadi tahunan, semesteran atau bahkan tiga bulanan. Visi harus mencakup bukan cuma sekedar sasaran, melainkan juga produk ( output ), segmen pasar dan system keorganisasian perusahaan.

4. Komunikasi visi

Visi yang baik musti tersampaikan , terkomunikasi dengan jelas dan terarah. Hal ini dapat dilakukan dengan beragam cara termasuk dengan contoh-contoh tindakan. Mengubah perilaku umumnya lebih effektif dilakukan melalui contoh-contoh kongkret dengan nilai-nilai yang telah disepakati bersama sebelumnya.

5. Mendorong para karyawan bertidak sesuai visi

Pemimpin wajib memberikan alat-alat (recources) yang memadai agar semua orang dapat bertindak menuju visi yang dicanangkan. Selain memberikan sumber daya yang bisa karyawan olah, pemimpin juga perlu menyingkirkan segala rintangan yang ada agar perusahaan mampu bergerak lincah. Termasuk di dalamnya adalah mendorong para karyawan untuk lebih berani mengambil langkah-langkah beresiko , tampil dengan gagasan-gagasan orginal dan melakukan terobosan-terobosan kreatif.

6. Raihlah kemenangan-kemenangan pendek

Perubahan pada umumnya tidak dapat dicapai dalam tempo yang singkat. Oleh karena itu tak jarang ditemui perubahan yang tak terselesaikan karena jangkauan pandangan yang dituntut terlalu jauh sehingga banyak orang yang keletihan , hilang arah dan tercecer di tempat-tempat tertentu. Jarak yang terlampau jauh ini tentu dapat melemahkan semangat para karyawan. Oleh karenanya, dalam setiap aktifitas perubahan , penting bagi pemimpin untuk memberikan kemenangan-kemenangan “antara” agar para karyawan mengetahui dimana posisi hasil kerja mereka berada dan terus bersemangat meraih tujuan.

7. Terus melakukan konsolidasi

Perubahan itu ibarat orang yang mengayuh sepeda. Kalau mendadak berhenti, ia akan jatuh. Supaya tidak jadi jatuh, maka ia harus terus mengayuh. Dengan memanfaatkan momentum yang ada, seorang pemimpin perubahan hendaknya terus memperbaharui sistem, struktur, kebijakan-kebijakan, prosedur dan kultur perusahaan sehingga fit dengan visi dan tuntutan kebutuhan lingkunganya.

Pemimpin sebaiknya tidak mengumumkan kemenangan, keberhasilan perusahaan pada karyawan-karyawannya terlalu dini agar mereka tidak cepat-cepat minta untuk beruistirahat, seperti tentara yang dipanggil pulang sementara perang belum usai. Kalau sudah terlanjur pulang dan betah di rumah, mereka pasti enggan kenbali ke medan perang.

8. Lembagakan pendekatan-pendekatan baru dan terapkan perubahan secara cultural

Pemimpin harus terus menciptakan hubungan antara perilaku-perilaku baru dengan keberhasilan unit-unit usaha. Tanpa menyelesaikan perubahan kultur (budaya), maka perusahaan akan tetap bekerja sesuai tradisi yang sudah lama mengakar. Ingatlah ! perubahan bukanlah ditujukan untuk mengganti orang, mengubah struktur atau membeli perabot-perabot baru. Perubahan pada dasarnya bertujuan memperbaharui cara memandang persoalan dan menyelesaikan pekerjaan.

Delapan langkah tersebut menurut John P.Kotter bersifat linear yang, berarti prosesnya harus dijalankan secara berurutan dan melewati beberapa fase. Jika ada satu langkah saja yang terlewati, maka hanya akan menghasilkan perubahan, pembaharuan yang tak sempurna. Ketidaksempurnaan itu tentu menghambat pencapaian perusahaan.

Your Thoughts